Editor: Ngarto Februana
AI juga dapat digunakan untuk meningkatkan perawatan kecantikan. Misalnya, AI dapat digunakan dalam analisis kulit untuk membantu mendiagnosis kondisi kulit seperti jerawat, bintik hitam, atau kerutan. Para profesional kecantikan dapat menggunakan AI untuk memberikan rekomendasi yang dipersonalisasi berdasarkan jenis kulit dan kondisi rambut seseorang, serta preferensi pribadi mereka. AI dapat digunakan untuk menyarankan perawatan, produk, dan gaya yang paling tepat berdasarkan data pelanggan dan catatan masa lalu.
Misalnya, Prose meluncurkan lini Perawatan Kulit bertenaga AI. Ini menggabungkan wawasan pengguna dengan algoritma kepemilikan untuk memberikan formula yang sangat dipersonalisasi kepada pelanggan.
Merek kecantikan lain seperti Sephora dan Ulta Beauty serta perusahaan teknologi, Haut AI, juga menggunakan AI generik untuk mengembangkan produk perawatan kulit yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu.
Dengan menggunakan AI, algoritme kecantikan dapat digunakan untuk menganalisis fitur wajah, kondisi kulit, warna riasan, dan gaya rambut untuk membuat rekomendasi kecantikan yang dipersonalisasi berdasarkan preferensi individu. Tujuannya adalah untuk mengangkat konsep kecantikan berdasarkan karakteristik unik setiap orang.
L'Oréal SkinConsultAI menggunakan AI untuk memberikan diagnosis yang dipersonalisasi kepada wanita dalam 3 langkah sederhana: Pertama, perempuan diajak mengunggah atau mengambil foto selfie di website perusahaan. Kemudian, teknologi baru mendeteksi 7 tanda penuaan: Kerutan di bawah mata, Kulit kurang kencang, Garis-garis halus, Kulit kurang bercahaya, Titik gelap, Kerutan dan pori-pori yang dalam.
Berdasarkan hasil yang dikembangkan melalui kerja sama dengan dokter kulit, SkinConsultAI mencapai tingkat akurasi penilaian kulit yang tinggi. Teknologi baru ini menggunakan pembelajaran mendalam untuk melatih algoritma berdasarkan 6000 gambar klinis yang diambil dari studi penelitian dan inovasi (R&I) L’oréal yang dilakukan dengan Skin Aging Atlases.
Algoritme tersebut kemudian menciptakan model baru berdasarkan lebih dari 4.500 selfie ponsel cerdas untuk tiga kelompok (Asia, Kaukasia, dan Afrika Amerika) dalam empat kondisi pencahayaan berbeda. Ekspresi wajah yang berbeda digunakan untuk mendapatkan hasil yang akurat. Kondisi pengambilan foto (cahaya, posisi telepon) mirip dengan konsumen.