Penulis: Staf Redaksi Lagihot
Pada hari Senin, Dewan Keamanan PBB mendukung proposal Presiden Joe Biden untuk gencatan senjata antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza. Resolusi tersebut bertujuan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama delapan bulan dan mendesak militan Palestina untuk menerima perjanjian tersebut.
Hamas menyambut baik penerapan resolusi yang dirancang AS dan menyatakan kesiapan mereka untuk berkolaborasi dengan para mediator dalam menerapkan prinsip-prinsip rencana tersebut, yang mereka yakini sejalan dengan tuntutan masyarakat dan perlawanan mereka.
Rusia abstain dalam pemungutan suara di PBB, sementara 14 anggota Dewan Keamanan lainnya mendukung resolusi yang mendukung rencana gencatan senjata tiga fase Biden, yang ia gambarkan sebagai inisiatif Israel pada 31 Mei.
Pada tanggal 4 Juni 2024, terjadi eskalasi ketegangan antara Israel dan Palestina di Jalur Gaza. Militan Palestina melancarkan roket ke Israel dan Israel melakukan serangan balasan, menghantam sejumlah target di Gaza.
Terjadi pertukaran tembakan dan serangan udara selama beberapa hari. Pihak Palestina melaporkan setidaknya 10 orang tewas, termasuk 3 anak-anak, dalam serangan udara Israel.
Upaya negosiasi untuk menghentikan pertempuran oleh mediator internasional terus dilakukan, namun belum mencapai kesepakatan gencatan senjata yang bertahan lama.
Pada 9 Juni 2024, Israel menyatakan akan terus melakukan serangan udara terhadap target-target militan Palestina di Gaza sampai serangan roket ke wilayah Israel dihentikan sepenuhnya. Situasi di lapangan masih sangat tegang dengan potensi eskalasi yang sewaktu-waktu dapat terjadi. Warga sipil di kedua sisi perbatasan terus hidup dalam ketakutan dan ancaman kekerasan.
Diolah dari berbagai sumber.
Memprihatinkan Kondisi Warga Gaza akibat Serangan Brutal IsraelSerangan Israel terhadap infrastruktur dan fasilitas kesehatan di Gaza memiliki dampak yang signifikan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi di wilayah tersebut. Kerusakan pada tempat tinggal akibat serangan Israel telah menghancurkan lebih dari 41.000 tempat tinggal dan merusak lebih dari 222.000 lainnya di Gaza. Belum lagi kerusakan pada rumah sakit dan sekolah. Lebih dari setengah jumlah rumah sakit di Gaza dan hampir dua pertiga jumlah fasilitas kesehatan primer tidak berfungsi. Selain itu, 279 fasilitas pendidikan dilaporkan rusak, yang mengakibatkan 625.000 siswa tidak bisa mengenyam pendidikan. Akses Air Minum dan SanitasiPenderitaan warga di Gaza juga terkait dengan penurunan akses air minum dan sanitasi. Konsumsi air di Gaza telah anjlok 90% sejak perang dimulai. Sebagian besar saluran pipa air limbah tidak berfungsi, dan ada kebocoran sebesar 50% dari saluran pipa utama. Hal ini mengakibatkan penurunan akses air minum yang signifikan bagi penduduk Gaza. Yang parah adalah kekurangan cadangan makanan. Gaza menghadapi kekurangan stok makanan seperti gandum, minyak goreng, kacang-kacangan, gula, dan beras. Pabrik pengolahan tepung di wilayah tersebut tidak beroperasi akibat pemadaman listrik, sehingga masyarakat harus antre berjam-jam untuk mendapatkan jatah roti. Keadaan tersebut diperparah dengan adanya pembatasan bantuan kemanusiaan karena kiriman bantuan kemanusiaan dihentikan selama beberapa waktu, sehingga akses terhadap bantuan menjadi terbatas. Dampak serangan Israel terhadap infrastruktur dan fasilitas kesehatan di Gaza sangat merugikan penduduk setempat. Kerusakan yang terjadi pada rumah sakit, sekolah, dan infrastruktur lainnya telah menghambat akses terhadap layanan kesehatan dan pendidikan, serta memperburuk kondisi sosial ekonomi di wilayah tersebut. Situasi kemanusiaan di Gaza semakin memburuk dengan setiap eskalasi konflik. Perlindungan dan bantuan bagi warga sipil menjadi isu utama yang membutuhkan perhatian internasional. |